PERAN BABINKAMTIBMAS DALAM

PENINGKATAN PELAYANAN MASYARAKAT

I.   Pendahuluan

 

1.    Latar Belakang

       Pada saat ini bangsa Indonesia sedang berusaha bangkit dari kesulitan yang menimpa, baik itu di bidang ekonomi, politik, sosial budaya maupun hankam. Untuk mendukung upaya perbaikan situasi dan kondisi bangsa maka stabilitas kamtibmas mutlak diwujudkan, dipelihara dan dipertahankan secara selaras dan seimbang dan berkesinambungan di dalam sistem/tatanan kehidupan kenegaraan guna mendukung terselenggaranya kelangsungan hidup bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.

       Keamanan, ketertiban masyarakat merupakan suatu situasi yang dibutuhkan dalam mendukung pelaksanaan pembangunan dan semua kegiatan masyarakat. Situasi kamtibmas sangat diharapkan oleh seluruh masyarakat untuk dapat diwujudkan, sehingga menimbulkan perasaan tentram dan  damai  bagi setiap masyarakat dan dapat meningkatkan motifasi dan semangat dalam bekerja, karena tidak ada rasa takut akibat kemungkinan adanya gangguan yang akan menimpa.

       Kamtibmas merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat dan pemerintah, termasuk di dalamnya adalah kepolisian sebagai aparat penegak hukum. Dalam pelaksanaannya, kepolisian melakukan upaya-upaya / tindakan yang diwujudkan dalam kegiatan berupa operasi kepolisian, baik yang sifatnya rutin maupun yang bersifat khusus.

       Pelaksanaan kegiatan Babinkamtibmas yang bertujuan untuk mengupayakan terwujudnya situasi kamtibmas yang mantap dan dinamis akan berpengaruh terhadap masyarakat, baik pengaruh yang bersifat positif maupun negatif. Hal ini disebabkan karena setiap masyarakat punya penilaian yang berbeda – beda terhadap kegiatan Babinkamtibmas khususnya dan Polri umumnya.

       Untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban di masyarakat  memang perlu ada koordinasi dan partisipasi dari semua pihak antara lain pemerintah, instansi samping ( TNI ) dan pihak Kepolisian yang punya wewenang sangat besar dalam memberikan perlindungan, pengangoman dan pelayanan kepada masyarakat serta tak kalah pentingnya adalah partisipasi masyarakat itu sendiri.Hal itu bisa terwujud apabila Polri terutama Babinkamtibmas turun langsung kemasyarakat sehingga peran Babinkamtibmas betul-betul dapat dirasakan dan mampu meningkatkan pelayanan masyarakat.

2.    Identifikasi Masalah

       Berdasarkan uraian di atas, maka pokok permasalahannya adalah : “Sejauh mana peranan Babinkamtibmas dalam meningkatkan pelayanan masyarakat”. Dengan beberapa pokok persoalan sebagai berikut:

  1. Apa saja peran Babinkamtibmas itu ?
  2. Bagaimana pemahaman masyarakat tentang peran Babinkamtib?
  3. Bagaimana pemahaman masyarakat tentang tugas Babinkamtibmas ?
  4. Bagaimana upaya kepolisian dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pelaksanaan tugas dan peran Babinkamtibmas dalam meningkatkan pelayanan masyarakat ?

3.    Kerangka Acuan Teori.

a.     Prinsip-prinsip Ekologi (Odum,1965)

       Teori ini menjelaskan tentang interaksi (hubungan timbal balik) antara pelaksanaan operasi kepolisian dan lingkungan sosial.

b.    Teori Motivasi-Hygiene (Frederick   Herzberg)

Teori ini menjelaskan tentang adanya  faktor-faktor yang memotivasi seseorang untuk untuk melakukan sesuatu, yaitu faktor intrinsik (dari dalam) dan ekstrinsik (dari luar).

4.   Maksud Penulisan

       Penulisan ini dimaksudkan untuk melengkapi tugas yang diberikan Dosen  mata kuliah Manajemen Kepolisian.

5.    Tujuan Penulisan

       Penulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang peran Babinkamtibmas dalam Meningkatkatkan Pelayanan Masyarakat .

II.  BABINKAMTIBMAS

       Babinkamtibmas adalah Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban masyarakat yang berperan aktif dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta langsung bersentuhan dengan aktifitas masyarakat.

  1. 1.     Tujuan Kegiatan Babinkamtibmas

      Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan Babinkamtibmas adalah terwujudnya situasi kamtibmas yang mantap dan dinamis dalam rangka mengamankan dan mensukseskan pembangunan Nasional. Sedangkan yang dimaksud dengan kamtibmas adalah suatu kondisi dinamis masyarakat yang ditandai oleh terjaminnya tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketentraman yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat, yang merupakan salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional.

      Operasi kepolisian dilaksanakan baik melalui operasi rutin (operasi rutin) maupun operasi khusus (operasi khusus) kepolisian, yang tujuannya adalah:

  1. Tujuan Operasi rutin

1)    Terpelihara dan tetap dipertahankannya situasi kamtibmas yang mantap dan terkendali.

2)    Pulihnya situasi kamtibmas yang terganggu.

3)    Terciptanya masyarakat yang samapta dalam bin kamtibmas.

4)    Terlaksananya pelayanan polri terhadap masyarakat dengan baik.

  1. Tujuan Operasi khusus

1)    Merubah situasi yang tidak atau kurang mantap menjadi situasi yang mantap.

2)    Terciptanya harapan masyarakat umum akan adanya rasa aman dan tertib, dengan peranan Polri sebagai pengayom/pelindung.

3)    Terpelihara dan terkendalinya situasi yang mampu mendukung kelangsungan dan kelancaran pembangunan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.

  1. 2.     Sifat-sifat Operasi Kepolisian

a.  Sifat Operasi rutin

1)    Dilaksanakan sepanjang hari selama setahun anggaran.

2)    Sasaran operasi kepolisian adalah seluruh ancaman kamtibmas.

3)    Daerah   operasi    meliputi    seluruh   wilayah    republik

Indonesia dan daerah lainnya yang mengikuti azas nasionalitet dan Undang-undang Nasional yang berlaku.

      b. Sifat Operasi khusus

1)    Dilakukan dalam waktu terbatas/tertentu.

2)    Menggunakan organisasi khusus.

3)    Obyek yang dijadikan sasaran adalah sasaran yang terseleksi yang kurang dapat ditanggulangi dengan operasi rutin kepolisian.

4)    Anggaran diprogramkan secara khusus.

5)    Personil yang dilibatkan ditetapkan secara khusus.

3.    Pelaksanaan Operasi Kepolisian.

      Dalam pelaksanaan operasi rutin maupun operasi khusus kepolisian dilakukan dengan berpedoman kepada sasaran yang dihadapi, cara bertindak, kekuatan yang dilibatkan dan pengendalian yang baik. Disamping itu untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, maka dalam penyelenggaraan tugas-tugas operasional kepolisian dilaksanakan dengan menggunakan fungsi-fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian, sehingga diharapkan dengan berpedoman pada fungsi manajemen maka hasil yang dapat diperoleh akan maksimal.

      Pada kenyataannya dalam pelaksanaan operasi rutin, yang dilaksanakan anggota seringkali hanya bersifat patroli tanpa memiliki sasaran yang jelas dan kurang memperhatikan baik administrasi yang mendukung pelaksanaan tugas operasi rutin maupun tidak mengindahkan fungsi manajemen, sehingga hasil yang dicapai tidak efektif dan efisien. Disamping itu operasi rutin yang dilaksanakan seperti ini seringkali juga menyimpang dari tugas yang seharusnya dilaksanakan dan hanya dilaksanakan seadanya saja, tanpa sasaran maupun hasil yang jelas.

      Namun disamping itu, banyak juga pelaksanaan operasi rutin yang dilakukan secara baik dan benar, dengan memperhatikan persyaratan yang harus dipenuhi dalam suatu operasi rutin sehingga hasil yang diperoleh dari operasi tersebut dapat maksimal.

      Pelaksanaan operasi khusus yang dilakukan pada waktu tertentu dengan sasaran, organisasi, anggaran yang khusus, yang dilakukan  terhadap sasaran yang terseleksi yang kurang dapat ditanggulangi dengan operasi rutin kepolisian, memerlukan perencanaan yang lebih baik dan lebih bersifat rahasia, sehingga diharapkan hasil yang diperoleh akan lebih optimal.

      Dalam pelaksanaan operasi rutin maupun operasi khusus, polri harus dapat menguasai karakteristik dari wilayah/lingkungan yang akan dijadikan sasaran pelaksanaan operasi, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan sosial, agar pelaksanaannya dapat berhasil. Hal ini disebabkan faktor lingkungan turut mendukung keberhasilan operasi, misalnya dukungan dari masyarakat terhadap pelaksanaan operasi akan membantu kelancaran pelaksanaan tugas, dibanding bila masyarakat yang tidak mendukung. Untuk itu dalam setiap pelaksanaan operasi kepolisian maka terlebih dahulu perlu dilakukan penguasaan wilayah operasi. Selain itu, disamping pengaruh lingkungan terhadap pelaksanaan operasi kepolisian, operasi kepolisian itu sendiri dapat berpengaruh terhadap lingkungan sosial sekitar daerah operasi.

 

III. Tanggapan Masyarakat terhadap Operasi Kepolisian

      Dalam pelaksanaan operasi kepolisian yang dilaksanakan di suatu tempat/wilayah, akan terjadi interaksi dengan lingkungan dimana operasi tersebut dilakukan, dan akan berpengaruh serta mendapat tanggapan dari masyarakat/lingkungan sosial disekitar daerah operasi maupun masyarakat yang ikut terlibat di dalam pelaksanaan operasi tersebut. Tanggapan yang mungkin muncul dari masyarakat itu, dapat berupa tanggapan positif/yang mendukung, maupun tanggapan negatif/menentang pelaksanaan operasi kepolisian tersebut. Semua tanggapan itu muncul didasari oleh motivasi dari masyarakat sebagai lingkungan sosial dimana operasi kepolisian tersebut dilaksanakan.

1.    Tanggapan Positif.

      a.    Masyarakat merasa puas.

Tanggapan positif masyarakat ini disebabkan masyarakat merasa bahwa polisi telah melaksanakan tugas dengan baik, dimana polisi telah berusaha baik secara preventif maupun represif terhadap tindak kriminalitas maupun gangguan kamtibmas lainnya yang mungkin maupun telah terjadi.

Misalnya operasi kepolisian yang dilaksanakan pada suatu daerah/lingkungan dimana sering terjadi gangguan kamtibmas yang mengakibatkan keresahan terhadap masyarakat dan masyarakat telah melaporkan situasi tersebut kepada pihak kepolisian, sehingga dengan adanya operasi kepolisian, gangguan kamtibmas tersebut dapat ditangani dan masyarakat merasa telah dilayani dengan baik oleh polisi sehingga mereka merasa puas.

      b.    Masyarakat merasa nyaman.

Pelaksanaan operasi kepolisian pada suatu wilayah yang kurang aman/terdapat gangguan kamtibmas, yang kemudian berhasil diselesaikan dengan baik, sehingga wilayah tersebut menjadi relatif lebih aman, dan membuat masyarakat merasa nyaman dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari tanpa rasa was-was terhadap kemungkinan gangguan kamtibmas di wilayah tersebut dapat menumbuhkan tanggapan positif terhadap pelaksanaan tugas kepolisian.

      c.    “Positive Thinking”

Pelaksanaan operasi kepolisian yang dilaksanakan dengan baik dan benar serta berwawasan lingkungan, dimana di dalam perencanaan dilakukan dengan teliti dan memperhitungkan lingkungan sekitar wilayah operasi, akan berhasil dan dapat menunjukkan kepada masyarakat tentang performa/kinerja polisi dalam pelaksanaan tugas serta akan mampu membangun citra polri yang baik di mata masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan berfikiran posistif terhadap polri dan akan mendukung dalam setiap pelaksanaan tugasnya.

      2.    Tanggapan Negatif

           a.    Masyarakat merasa tidak puas.

       Dalam setiap pelaksanaan kegiatan selalu terjadi dualisme, dimana ada pihak yang merasa diuntungkan/ dirugikan atau ada yang merasa puas/tidak puas. Perasaan tidak puas ini dapat disebabkan beberapa hal, misalnya masyarakat merasa tidak terlayani, yaitu bila pelaksanaan tugas operasi kepolisian belum dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang timbul. Misalnya pelaksanaan operasi terhadap suatu sasaran yang telah ditetapkan di suatu wilayah yang meresahkan masyarakat, tetapi karena suatu hal, operasi tersebut belum dapat berhasil sesuai dengan apa yang direncanakan, sehingga masyarakat merasa tidak puas. Sebab lain adalah akibat dari kesalahan dari polisi sendiri yang disebabkan perencanaan pelaksanaan tugas yang tidak dilakukan dengan baik sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal.

      b.    Masyarakat merasa tidak nyaman

Pada pelaksanaan operasi kepolisian yang dilakukan pada suatu wilayah tertentu, misalnya di jalan raya, dimana pada saat pelaksanaannya petugas menghentikan kendaraan dan memeriksa kelengkapan kendaraan maupun muatan kendaraan, dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi pengendara kendaraan, terlebih bila dalam perencanaan operasi kepolisian tidak dilaksanakan dengan baik sehingga petugas tidak mengikut sertakan polisi lalu lintas sedangkan dibutuhkan pemberian tilang bagi pengemudi yang melanggar peraturan. Pada kondisi ini petugas seringkali membawa pengemudi dan kendaraan ke komando dan disana baru diberikan tilang, tentunya hal ini dapat mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan menghambat perjalanan mereka.

      c.    “Negative Thinking”

       Dalam pelaksanaan tugas seringkali aparat kepolisian mendapat citra yang kurang baik dimata masyarakat. Hal ini tentunya disebabkan oleh adanya rumor-rumor yang beredar yang bersifat negatif tentang polisi, ditambah lagi dengan adanya tindakan oknum polisi yang melakukan tindakan yang tidak simpatik terhadap masyarakat, atau bahkan menggunakan kesempatan-kesempatan tertentu untuk menguntungkan diri sendiri dengan cara yang bertentangan dengan tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan. Hal-hal ini dapat menimbulkan adanya citra negatif/”negative thinking” dari masyarakat apabila mereka melihat seorang anggota polisi.

IV. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya Tanggapan Negatif Masyarakat

      Pelaksanaan operasi kepolisian sesungguhnya dimaksudkan untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat pada umumnya, dengan tujuan untuk terwujudnya situasi kamtibmas yang mantap dan dinamis dalam rangka mengamankan dan mensukseskan pembangunan Nasional

      Munculnya tanggapan-tanggapan negatif dari masyarakat tentang pelaksanaan operasi kepolisian yang bertujuan menciptakan kamtibmas antara lain dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1.    Pengetahuan masyarakat tentang pelaksanaan tugas Polri

      Pelaksanaan tugas polri sesungguhnya adalah untuk melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat, tentunya dalam pelaksanaan tugasnya polri selalu berusaha untuk menjalankan kewajibannya dengan baik tanpa terikat trisna pada sesuatu.

      Dalam pelaksanaan tugas, Polri selalu berpedoman kepada Undang-undang kepolisian maupun perundang-undangan lainnya, dan disana telah diatur mengenai apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab, serta hak dan kewajiban setiap anggota polri.

      Masyarakat yang terdiri dari berbagai macam tingkat pendidikan dan pengetahuan, mempunyai pemahaman yang berbeda-beda terhadap pelaksanaan tugas polri. Disatu pihak ada masyarakat yang mengerti dan paham tentang pelasanaan tugas polri, namun dilain pihak banyak pula masyarakat yang belum mengerti tentang tugas-tugas polisi secara benar, sehingga seringkali mereka salah dalam menilai tindakan yang dilakukan polisi pada saat melaksanakan tugasnya. Dengan demikian tindakan polisi yang sudah berpedoman pada aturan yang berlaku sekalipun terkadang masih ditanggapi negatif oleh masyarakat, termasuk di dalmanya adalah pelaksanaan operasi kepolisian yang bertujuan menciptakan kemanan, ketertiban dalam masyarakat.

2.    Rendahnya tingkat pemahaman hukum masyarakat

             Hal yang dapat menyebabkan rendahnya tingkat pemahaman hukum masyarakat diantaranya adalah tingkat pendidikan masyarakat.

      Pemahaman hukum masyarakat dapat dipengaruhi oleh pendidikan seseorang. Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang baik, akan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang hukum yang relatif lebih baik dibandingkan dengan masyarakat dengan tingkat pendidikannya rendah.

      Pengetahuan masyarakat tentang hukum akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam upaya penegakan hukum. Pemahaman hukum yang rendah akan berakibat kekurang pahaman tentang aturan yang melarang atau mengijinkan suatu perbuatan dilakukan, sehingga seringkali masyarakat melakukan tindakan yang menyimpang dari aturan yang berlaku karena kebiasaan yang salah. Misalnya diadakannya kegiatan perjudian pada saat dilangsungkan pasar malam, mengendarai kendaraan tanpa menggunakan nomor kendaraan/kelengkapan kendaraan lainnya dan sebagainya. Sehingga pada saat polisi menindak pelaku pelanggaran tersebut, masyarakat akan mempunyai tanggapan yang tidak baik terhadap polisi karena mereka merasa bahwa perbuatan yang dilakukan adalah sudah menjadi kebiasaan dan bukan suatu pelanggaran terhadap aturan yang berlaku.

3.    Tindakan anggota polri yang tidak profesional

      Pada dasarnya tugas polri adalah melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat, dengan demikian diharapkan seluruh anggota polri dapat memahami benar tentang tugas ini. Namun seringkali di pada pelaksanaan tugasnya, seorang anggota polri melakukan perbuatan yang tidak profesional dan tidak sesuai dengan tugas yang harus ia laksanakan. Perilaku anggota Polri yang tidak sesuai dengan tugasnya tersebut, dapat mempengaruhi munculnya tanggapan yang negatif di dalam masyarakat, secara khusus kepada oknum polisi yang bersangkutan maupun polri pada umumnya.

      Tindakan-tindakan yang tidak profesional dan tidak sesuai dengan tugasnya, antara lain adalah :

a.    Perbuatan yang berusaha menguntungkan diri sendiri, misalnya dengan melakukan pungli terhadap masyarakat yang melakukan pelanggaran.

b.   Sikap arogan terhadap masyarakat.

c.    Sikap pilih kasih, yaitu sikap yang membedakan dalam memberikan perlakuan/tindakan antara orang yang satu dengan yang lain. Misalnya perbedaan perlakuan antara si kaya dan si miskin.

d.    Penyalahgunaan wewenang.

e.    Perbuatan lain yang melanggar peraturan normative/tertulis/ formal, prosedur operasi, dan hukum pidana.

V.   Upaya-Upaya dalam memberikan pemahaman yang benar tentang pelaksanaan tugas kepolisian kepada mayarakat.

      Pelaksanaan tugas polri yang bertujuan untuk melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat tentunya akan melibatkan unsur-unsur lain di luar Polri, seperti aparat penegak hukum lainnya (Jaksa,Hakim,Lembaga Pemasyarakatan), termasuk juga diperlukan dukungan dari masyarakat, karena polri tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan semua hal tersebut.

      Untuk dapat memperoleh dukungan dari masyarakat, tentunya terlebih dahulu diperlukan pemahaman yang benar dalam masyarakat tentang polisi, maupun tugas dalam menciptakan situasi kamtibmas yang bukan hanya menjadi kewajiban dari polri saja, melainkan menjadi tanggung jawab bagi seluruh masyarakat.

Upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh polri dalam memberikan pemaham yang benar kepada masyarakat tentang pelaksanaan tugas polri diantaranya dilakukan dengan cara:

1.    Preemtif

      Tindakan preemtif dilakukan dengan mengedepankan fungsi Bimmas (bimbingan masyarakat), melalui kegiatan-kegiatan berupa:

  1. Pendekatan.

Untuk dapat bekerja sama dengan orang lain yang perlu dilakukan adalah mengenal dengan baik orang tersebut. Demikian juga untuk dapat bekerja sama dengan masyarakat diperlukan upaya-upaya berupa pendekatan. Untuk melakukan pendekatan dengan baik perlu memahami teknik-teknik pendekatan yang baik, yaitu:

1)        Informatif. Artinya menjelaskan sesuatu secara cepat, tepat dan benar.

2)        Persuasif.  Artinya dilakukan dengan cara-cara yang baik, memikat hati, bujukan, ajakan, puji-pujian dan sebagainya.

3)        Motivatif. Artinya memberi  harapan – harapan  kepada

masyarakat, mendorong untuk bisa berubuat sesuatu yang positif.

4)        Edukatif.  Artinya bersifat mendidik, meningkatkan wawasan, mengembangkan sikap positip, meningkatkan kemampuan.

5)        Komunikatif . Dengan pola 3 S (Senyum, Sapa dan Salam) yaitu komunikasi yang ramah, sopan sesuai norma yang berlaku di wilayah tugas masing-masing, terbuka dan akrab

b.    Penyuluhan Hukum

        Dilakukan kepada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat mendapat informasi yang jelas serta lebih memahami tentang hukum yang berlaku, sehingga diharapkan masyarakat mau dan mampu untuk mematuhi segala ketentuan yang berlaku.

c.    Pemberian informasi tentang pelaksanaan tugas polri

       Pemberian informasi yang jelas kepada masyarakat tentang tugas-tugas polri, akan dapat membuka cakrawala pandang masyarakat tentang polri, baik tugas, tanggung jawab, wewenang dan segala keberadaannya. Dengan demikian masyarakat akan lebih obyektif dalam menilai kinerja polri di lapangan, serta mengurangi citra buruk polri di mata masyarakat.

       Informasi tentang polri ini, akan dapat membuka mata masyarakat betapa berat dan sulitnya tugas yang harus diemban serta pentingnya peran serta dari masyarakat dalam mendukung pelaksanaan tugas polri dalam mewujudkan kamtibmas.

2.    Preventif

      Sebagai pelayan,pelindung dan pengayom masyarakat, maka polri harus berusaha mewujudkan situasi aman dan tertib dalam masyarakat. Untuk itu polri perlu melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya gangguan kamtibmas, sehingga masyarakat dapat merasa aman dan terayomi.

      Kegiatan yang dilakukan dalam upaya preventif oleh polri adalah berupa kegiatan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli, disamping itu juga kegiatan diteksi dini terhadap kemungkinan munculnya gangguan kamtibmas.

      Selain kegiatan tersebut di atas, polri juga perlu memberikan pemahaman yang baik tentang pentingnya peran serta masyarakat dalam turut menciptakan situasi kamtibmas di wilayahnya, yaitu dengan pelaksanaan siskamswakarsa atau sistim keamanan lingkungan dan diharapkan masyarakat mau untuk turut serta melakukan upaya pencegahan di wilayahnya bersama-sama dengan polri.

 

3.    Represif

      Apabila pelaksanaan tugas berupa kegiatan preemtif, preventif telah dilakukan dengan baik, diharapkan masyarakat telah dapat mengerti tentang hukum, kepolisian dan pentingnya peran serta masyarakat untuk turut serta dalam upaya menciptakan kamtibmas di wilayahnya.

      Langkah berikutnya adalah pelaksanaan tindakan represif terhadap setiap pelanggaran yang timbul secara tegas, agar masyarakat mengetahui bahwa setiap tindakan yang melanggar ketentuan perundang-undangan akan mendapat sanksi. Dengan demikian diharapkan masyarakat akan semakin mengerti tentang pentingnya mematuhi peraturan yang berlaku dan menimbulkan efek jera bagi setiap pelanggar hukum.

VI. Kesimpulan dan Saran

     1.    Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan:

a.     Operasi kepolisian adalah segala upaya, kegiatan dan tindakan yang berencana dengan menggunakan kekuatan fiisik Polri beserta komponen-komponen pendukungnya yang tersedia dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya, dan dalam pelaksanaannya operasi kepolisian dilaksanakan baik melalui operasi rutin (operasi rutin) maupun operasi khusus (operasi khusus) kepolisian.

  1. Dalam pelaksanaan operasi kepolisian terjadi interaksi dengan lingkungan social/masyarakat disekitar daerah operasi maupun masyarakat yang ikut terlibat di dalam pelaksanaan operasi tersebut, dan menimbulkan tanggapan dari masyarakat baik berupa tanggapan negatif maupun tanggapan positif.
  2. Tanggapan dari masyarakat yang bersifat negatif terhadap pelaksanaan operasi kepolisian disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pelaksanaan tugas Polri, rendahnya tingkat pemahaman hukum masyarakat dan adanya tindakan anggota polri yang tidak profesional.
  3. Upaya-upaya yang perlu dilakukan agar masyarakat mempunyai pemahaman yang benar tentang pelaksanaan tugas polri adalah preemtif dengan cara pendekatan kepada masyarakat, penyuluhan hukum dan pemberian informasi tentang pelaksanaan tugas polri, preventif dengan cara melakukan kegiatan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli, disamping itu juga kegiatan diteksi dini, dan represif dengan cara menindak setiap pelanggaran yang timbul secara tegas.

2.    Saran.

     a.     Dalam upaya polri mewujudkan situasi keamanan dan ketertiban dalam masyarakat melalui kegiatan operasi kepolisian, diperlukan polri yang profesional, bersih dan berwibawa.

      b.    Untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat, maka polri perlu melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman tentang hukum dan kepolisian kepada masyarakat dengan mengefektifkan pelaksanaan tugas Babinkamtibmas.

      c.     Dalam setiap pelaksanaan tugas operasi kepolisian, para pimpinan kesatuan dan pelaksana di lapangan perlu lebih memperhatikan lingkungan dimana kegiatan operasi dilaksanakan, sehingga diharapkan hasil yang diperoleh akan lebih baik dan mendapat dukungan dari masyarakat.